Kabar itu sungguh mengejutkan. Karena sekiara dua-empat hari sebelumnya masih
membalas pesan singkat kawan-kawannya.
AHAD
pagi, 11 Januari 2026, selepas shalat subuh, saya membuka handphone. Ada beberapa
pesan masuk di beberapa grup whatapps. Salah satunya, kabar yang sungguh
mengejutkan. Kawan saya, Lukman Aziz Kurniawan, meninggal dunia. Berita duka ini dikirim dalam bentuk flyer berikut keterangannya.
Kawan Sedari Lama
Persahabatan saya dengan Lukman sejak masih kuliah. Saya kuliah di IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sedangkan Lukman kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Almarhum satu tahun di atas saya. Kami sama-sama aktivis. Di intra kampus, Lukman pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di ekstra kampus, kami sama-sama menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat. Kami sama-sama aktivis reformasi '98.
Lukman lulus lebih dulu di UMJ. Kemudian saya menyusul. Selepas lulus, saya pindah kost di UMJ. Sementara Lukman membuka rental komputer di dekat Fakultas Agama Islam UMJ, bersama istrinya. Kadang-kadang, di waktu-waktu yang membosankan, saya datang ke rental dia, untuk sekadar ngobrol dan ngupi.
Di sekitaran tahun 2000-an, Lukman mengajak saya mendirikan lembaga ICMR. Akronim dari Institute for Civil Military Relations. Ada nama Riefki Muna dan Ray Rangkuti di jajaran pengurus ICMR ini. Tapi, keterlibatan saya tidak panjang, karena saya memutuskan ke Pare, Kediri untuk kursus Bahasa Inggris. Hampir enam bulan saya di Kampung Inggris itu.
Sepulang dari Kediri, setelah 'mampir' di beberapa surat kabar hingga akhirnya saya memutuskan untuk bekerja sebagai wartawan di harian politik Rakyat Merdeka, Lukman mengikuti jejak saya. Lukman menuliskan lamaran kerjanya dengan 'mencatut' nama saya. Dan, berhasil diterima di Rakyat Merdeka. Saya menyebutnya mencatut karena dia tidak bilang ke saya sebelumnya. Peristiwa ini selalu jadi candaan kami ketika silaturahmi sesama mantan aktivis HMI Ciputat circle UMJ.
Ketika di Rakyat Merdeka, inisalnya LAK. Lukman tak lama di Rakyat Merdeka. Langkahnya sebagai wartawan melampaui saya. Juga, keputusannya, cepat. Sat set. Sejak tidak lagi di Rakyat Merdeka, saya sudah tidak lagi komunikasi. Cuma kabar-kabar tentang aktivitasnya masih sampai di telinga saya. Kabar-kabar itu baru divalidasi ketika kami bertemu di restoran cepat saji di dekat kantor Rakyat Merdeka.
Kawan ini pernah beraktivitas di kantor Gubernur DKI Jakarta, direktur perusahaan tambang di Morowali, Humas Taman Impian Jaya Ancol, direktur lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), mendirikan perusahaan public relations dan berakhir dengan mendirikan lembaga kemanusiaan Indonesia Care (I-Care), hingga meninggal dunia.
Selepas pertemuan itu, saya tak lagi komunikasi secara pribadi dengan LAK. Saya tidak pernah membuat janji, begitupun dia. Tapi, komunikasi dan obrolan saya dengan Lukman masih berlanjut dan banyak. Pertemuan, obrolan dan persinggungan aktivitas saya dengan Lukman, karena saya mendampingi kegiatan istri yang sama-sama alumni UMJ dan HMI Cabang Ciputat. Saya masih bertemu dan ngobrol dalam acara pelantikan KAHMI Rayon Cirendeu (UMJ), buka puasa bersama, menggodok pergerakan aksi demonstrasi dan lain-lain.
Pameran Nasional Kebencanaan
Pameran Nasional Kebencanaan digelar di Kota Tua, Jakarta. Lukman menjadi ketua pelaksana, dengan sekretaris umum Asya Ramadiannisa Kaffa, mahasiswi Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan dan Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Anak sulung saya. Perempuan.
Asya ini tiga bersaudara. Adiknya perempuan dan laki-laki. Biasanya, kalau rapat-rapat dengan para senior relawan kebencanaan dari beragam organ yang tergabung dalam panitia pameran ini, Asya jalan sendiri. Naik bus Transjakarta. Tapi, malam itu, saya, istri dan dua adiknya mengantarkannya ke lokasi tempat diselenggarakannya pameran. Kota Tua.
Sampai di pelataran Kota Tua, tenda besar khas tenda kebencanaan sudah terpasang. Kami datang bersama hujan yang sudah reda. Kami berjalan di bawah rintik hujan mencari ketua pelaksana yang tidak kelihatan. Sepi. Tapi, lampu taman tetap menyala pudar, tak mampu membelah gelap malam sehabis hujan.
Istri saya menelopon Lukman. Katanya, dia lagi istirahat di dalam salah satu bagunan yang menjadi bagian dari Kota Tua. Kemudian, kami masuk setelah beberapa kali salah titik lokasi. Sampai di dalam, rupaya Lukman benar-benar istirahat. Dia sedang menahan sakit karena kakinya kena asam urat.
"Sudah minum obatnya Luk?" tanya saya.
"Belum. Lagi dibeliin obatnya," katanya.
Lalu, saya tanya lagi, "Pakai obat apa biasaya?" Saya pun cerita, kalau saya juga pernah kena asam urat di pergelangan jempol kaki. Rasanya sakit bangat. Susah jalan. Kalau mau jalan, kaki kudu diseret
Kemudian, dia menjawab dengan panjang lebar. Lukman menyebutkan salah satu obat china. "Paten obatnya. Nggak pake lama, sebentar abis minum obat ini, langsung hilang sakitnya. Saya kalau kena asam urat, minum obat itu aja. Sembuh. Dulu dijual di apotek, sekarang udah nggak. Sekarang belinya di toko-toko jamu," katanya.
Tak lama, datang pesanan makan malam. Masakan padang. Lukman pun makan. Tidak ada pantangan. Seingat saya, daging dan dedaunan khas masakan padang disantap habis. Setelah makan malam, baru Lukman meninjau lokasi untuk pembukaan acara pameran kebencanaan besok pagi. Karena tidak bisa jalan, akhirnya Lukman pun harus ditandu untuk menginspeksi kesiapan acara.
Rajin Cuci Darah
Sebelum akhirnya berakhir fatal, pada 2024, malam hari, saya dan istri menjenguk LAK di rumahnya di bilangan Parung, Bogor, Jawa Barat. Tak lama kami berbincang karena sudah malam juga. Kami pun pamit pulang.
Tahun 2025, Lukman jatuh sakit. Vonis dokter, Lukman menderita gagal ginjal kronis. Ginjalnya hanya tinggal berfungsi 5% dan harus cuci darah. Saya menemani istri, dan kawan-kawan alumni HMI Rayon UMJ menjenguk Lukman di rumahnya. Meski ginjalnya tinggal 5% persen yang masih berfungsi, Lukman masih bisa menemui kami. Badanya sudah kurus. Jalannya sudah tertatih-tatih. Harus pegang tembok atau dipapah untuk bisa jalan. Tapi, dari ruwat wajahnya tak terlihat kekecewaan. Dia tampak ikhlas menerima sakit yang dialaminya.
Kala itu, Lukman banyak cerita tentang kondisi perusahaan tambang tempatnya bekerja hingga akhirnya harus resign. Dia juga cerita tentang hobbinya sebagai kolektor miniatur ... dan perjuangannya mendirikan Indonesia Care (I-Care). Kami mendengarkan saja. Sesekali, di sela-sela cerita itu, kami sisipkan untuk tetap semangat hidup untuk memulihkan ginjalnya supaya berfungsi optimal. Dia mengangguk dan senyum.
Dalam kunjungan itu, ada teman bernama Apri, alumni UMJ. Dia bercerita bahwa dirinya juga pernah menderita ginjal dan divonis hidup tidak lama lagi. Tapi, dia berjuang. Hanya makan ikan dan nasi secukupnya. Sangat menghindari semua jenis pisang. Dan paling utama, harus banyak istirahat, tidak beraktivitas berlebihan dan tetap berdoa. Alhasil, setelah berjuang empat-lima tahun (kalau saya tidak salah dengar), Apri kini dinyatakan pulih. Ginjalnya sehat lagi.
Mendengar cerita Apri, dalam hati saya, saya optimis Lukman bisa pulih kembali. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, beberapa hari setelah kami menjenguknya, Lukman memburuk, harus dilarikan ke rumah sakit, dan sekaligus harus cuci darah. Lukman menyerah, dia akhirnya cuci darah secara periodik. Dia rutin cuci darah setiap hari Rabu dan Sabtu.
Keputusannya tepat. Lukman membaik. Suaranya di ujung telepon, kalau istri saya menelopon, terdengar optimis. Saya pun optimis, Lukman bisa kembali memulihkan ginjalnya, seperti temannya, Apri.
Tetap Kerja Untuk Kemanusiaan
Dalam kondisi sakit, Lukman tetap memikirkan korban bencara di Pulau Sumatera yang menimpa Aceh, Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut). Dia masih menggalang donasi untuk dikirimkan ke lokasi bencana.
Bahkan, ini mungkin yang membuat dia tambah lelah, barang-barang hasil donasi masyarakat yang dikumpulkan Indonesia Care (I-Care), lembaga kemanusiaan yang didirikannya bersama kawan-kawan, tidak bisa diangkut oleh pesawat Herkules. Kata dia, prosedurnya berbelit, dipimpong sana-dipimpong sini.
Sampai akhirnya, ada oknum yang bersedia mengangkut asalkan donasi I-Care berganti nama menjadi donasi institusi tertentu. Lukman bertahan. Dia tidak mau. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mengangkut amanah masyarakat untuk korban bencana Pulau Sumatera itu melalui penerbangan komersil Batik Air. Dia juga mengirim mobil ambulans satu-satunya milik I-Care ke lokasi bencana.
Di penghujung hidupnya, Lukman masih berkomunikasi dengan istri saya. Kata Lukman, I-Care sedang menggalang donasi untuk mengirimkan mushaf al-Quran ke Aceh, supaya para korban bencana tetap bisa membaca Al-Quran. Terlebih, sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Allahu kariim.
Al-faatihah untuk Lukman Aziz Kurniawan. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafu'anhu. Semoga amal kebaikannya diterima Allah, dosa dan khilafannya diampuni oleh Allah. Allah tempatkan di sisi-Nya. Aamiin.
----
Penulis: Abdul Shomad dan Neti Hernawati
Editor : Abdul Shomad




kritis, konstruktif dan solutif