Ibnu Hajar Al-Asqalani: Spirit Motivasi Sepanjang Zaman Dan Kisah Dha’if?

admin
0

Ibnu Hajar Al-Asqalani (ilustrasi/republika.co.id)


Pasti pernah dengar cerita ini:

Ada santri yang menuntut ilmu tapi nggak bisa-bisa. Bebal. Ilmu yang diajarkan gurunya nggak masuk-masuk ke otak. Nggak hafal-hafal. Akhirnya prustrasi. Si santri pun meminta izin kepada gurunya untuk pulang saja. Setelah berkali-kali minta izin, akhirnya gurunya mengizinkan santri tersebut untuk pulang. Namun, dalam perjalanan pulang, turun hujan. Si santri ini pun berteduh di dalam goa. Ketika menunggu hujan reda, santri mendenger suara tetes hujan menimpa batu. Dia tertarik dan mencari sumber suara tersebut. Dan, ketika dia melihatnya, ternyata suara gemericik itu berasal dari air hujan yang jatuh menimpa batu, meski dengan volume tetesan, tapi karena berlangsung secar terus menerus, tetesan hujan itu mampu melubangi batu. Si santri tertegun. Dia nggak jadi pulang ke rumah. Dia memutuskan kembali dan menemui gurunya. Santri ini terus belajar dan belajar. Akhirnya, santri ini menjadi ulama besar.

--Kisah ini diceritakan dengan beragam redaksi dengan intisari yang sama--

------------

 

 

 

NAMANYA sangat terkenal di kalangan santri. Mashur dan sangat populer. Bahkan, bagi kaum sarungan, kisah sosok ini kerap kali menjadi motivasi sekaligus ambisi untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Kisahnya yang menginspirasi diceritakan dari panggung dakwah ke panggung dakwah, dari pesantren salaf hingga pesantren khalaf.

 

Inilah Ibnu Hajar Al Asqalani. Ulama multitalenta. Dikenal luas sebagai muhaddits (pakar hadis), faqih (ahli fiqih), mufasir (ahli tafsir), qadhi (hakim), mu’arrikh (sejawaran) dan sya’ir (penyair).

 

Ulama besar hafizh Al-Qur’an ini bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani. Yang artinya “anak batu” yang berasal dari Asqalan. Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi motivasi bagi para penuntut ilmu untuk tetap bersabar, ulet, istiqamah untuk terus belajar, meski dalam situasi yang sulit sekalipun. Selengkapnya klik di sini 


 Author: Abdul Shomad, MA

Tags

Posting Komentar

0Komentar

kritis, konstruktif dan solutif

Posting Komentar (0)