![]() |
| Ibnu Hajar Al-Asqalani (ilustrasi/republika.co.id) |
Pasti pernah
dengar cerita ini:
Ada santri yang menuntut ilmu tapi nggak
bisa-bisa. Bebal. Ilmu yang diajarkan gurunya nggak masuk-masuk ke otak. Nggak
hafal-hafal. Akhirnya prustrasi. Si santri pun meminta izin kepada gurunya
untuk pulang saja. Setelah berkali-kali minta izin, akhirnya gurunya
mengizinkan santri tersebut untuk pulang. Namun, dalam perjalanan pulang, turun
hujan. Si santri ini pun berteduh di dalam goa. Ketika menunggu hujan reda,
santri mendenger suara tetes hujan menimpa batu. Dia tertarik dan mencari
sumber suara tersebut. Dan, ketika dia melihatnya, ternyata suara gemericik itu
berasal dari air hujan yang jatuh menimpa batu, meski dengan volume tetesan,
tapi karena berlangsung secar terus menerus, tetesan hujan itu mampu melubangi
batu. Si santri tertegun. Dia nggak jadi pulang ke rumah. Dia memutuskan kembali
dan menemui gurunya. Santri ini terus belajar dan belajar. Akhirnya, santri ini
menjadi ulama besar.
--Kisah ini
diceritakan dengan beragam redaksi dengan intisari yang sama--
------------
NAMANYA sangat terkenal di kalangan santri. Mashur dan
sangat populer. Bahkan, bagi kaum sarungan, kisah sosok ini kerap kali menjadi
motivasi sekaligus ambisi untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Kisahnya yang
menginspirasi diceritakan dari panggung dakwah ke panggung dakwah, dari
pesantren salaf hingga pesantren khalaf.
Inilah Ibnu Hajar Al Asqalani. Ulama multitalenta.
Dikenal luas sebagai muhaddits (pakar hadis), faqih (ahli fiqih),
mufasir (ahli tafsir), qadhi (hakim), mu’arrikh
(sejawaran) dan sya’ir (penyair).
Ulama besar hafizh Al-Qur’an ini bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani. Yang artinya “anak batu” yang berasal dari Asqalan. Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi motivasi bagi para penuntut ilmu untuk tetap bersabar, ulet, istiqamah untuk terus belajar, meski dalam situasi yang sulit sekalipun. Selengkapnya klik di sini
Author: Abdul Shomad, MA

kritis, konstruktif dan solutif